Surat Cinta Untuk Dosen yang Hobi Kirim PDF Saja

Serang, LPMWisma.com Salam hangat untuk bapak/ibu dosen yang berbahagia, dari mahasiswamu yang selalu dicekoki file PDF tanpa dibumbui diskusi yang berisi. Ini tentang bagaimana sebuah sistem dijalankan dengan berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan. Tentang sebuah pemikiran baru yang diperlukan dalam menghadapi era perubahan…
Dengan segala rasa hormat yang melimpah, Saya harap bapak/ibu baik-baik saja dan tetap dalam lindungan Tuhan dari covid 19 yang masih menggelora di Indonesia. Sudah lama sekali rasanya kita tak berjumpa, terhitung waktu di bulan Maret yang membuat masyarakat harus terpasung di dalam rumah, sejak Presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan untuk melakukan semua kegiatan secara sosial distancing, sehingga hal itu berdampak pada hampir semua sektor kehidupan manusia, salah satunya adalah sektor pendidikan yang berdampak pada pelajar di berbagai tingkatan pendidikan. Dalam hal ini saya memfokuskan pada tingkat perguruan tinggi, dimana mahasiswa yang menjadi korban. Ketika perkuliahan seharusnya berlangsung secara tatap muka namun kini, harus digantikan dengan sistem daring (dalam jaringan). Semua aktifitas perkuliahan seketika beralih serba online, diskusi online, tugas online, kerja kelompok online dan segala drama perkuliahan lainnya.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia memang sedang berada ditingkat darurat dan ditambah dengan gembar-gembor media tentang angka penyebaran wabah yang sudah mengisi seluruh provinsi dengan tingkat kematian yang kian melonjak. Dan pastinya tidak ada yang menginginkan situasi seperti saat ini bukan? Sekarang adalah bagaimana kita tetap dapat bertahan hidup ditengah keadaan yang sulit ini, hidup sehat dalam kewarasan yang terjaga menjadi salah satu upaya supaya tidak terinfeksi virus covid-19. Namun untuk menerapkan hidup sehat dan waras di kalangan mahasiswa terasa sedikit sulit karena pelaksanaan kuliah daring yang sistem pembelajarannya justru membuat stres. Dalam prakteknya kuliah daring memang tidak semudah yang dibayangkan, karena sebagai dosen seyogyanya memberikan contoh untuk ditiru supaya ilmu yang diberikan dapat diimplementasikan oleh mahasiswa. Belajar memang bisa darimana saja, tapi mahasiswa tanpa dosen ibarat orang buta tanpa tongkat, alih-alih belajar sendiri akhirnya malah salah persepsi. Stress berkelanjutan pun makin menjadi akibat gonjang-ganjing informasi dikanca layar notifikasi berita perihal penyebaran dari wabah virus covid-19.
Bapak/Ibu dosen yang sangat saya hormati, pasti sudah tidak asing lagi bukan dengan sistem daring itu seperti apa? Atau setidaknya jika tidak tau, pastinya akan ada rapat bersama dengan seluruh dosen dan jajarannya di kampus untuk menerapkan kuliah dengan jaringan berbasis internet/Online. Sangat disayangkan sekali jika kampus yang sudah berstandar Internasioal dengan banyaknya prestasi akan tenggelam jika cara kerja dosennya terus seperti ini dalam memberikan materi. Tidak perlu panjang lebar untuk membahas kearah ini, sekiranya dari judul tentang surat terbuka ini semoga Bapak/Ibu dosen yang merasa cara kerjanya tidak sesuai dengan sebagaimana fungsi menjadi seorang pengajar, semoga dengan hadirnya surat ini memiliki tingkat kesadaran yang cukup jelas. Adapun beberapa point yang menjadi kritik adalah:

  1. Masih banyak cara dosen mengajar dengan mengirim PDF saja tanpa menjelaskan tentang isi materi tersebut.
  2. Masih banyak cara dosen yang memberikan tugas kelompok untuk menjadi alternatf penyampaian materi. Dimana kelompok tersebut nantinya akan melakukan persentasi kemudian diakhiri sesi diskui tetapi pada perakterknya masih banyak dosen yang tidak ikut berdiskusi bersama atau mengarahkan mahasiswa yang merasa bingung terkait materi persentasi yang berlangsung.
  3. Media belajar hanya berpacu kepada PPT, PDF dan diskusi ditempat transparan seperti WhatsApp grup atau Google classroom sehingga tidak memungkinkan untuk berinteraksi secara aktif. Dari ketiga hal tersebut sangat jelas pointnya mengarah kepada metode belajar yang rata-rata seperti itu atau beberapa dosen sama sekali tidak memberikan materi. Walaupun, masih ada juga dosen yang memenuhi kriteria sebagaimana fungsinya, dengan mengajar memakai aplikasi via zoom agar bisa bertatap muka atau dosen yang kreatif membuat video menarik lalu menjelaskan kembali dengan voice note. Bukankah mereka layak diapresiasi karena menjalankan fungsinya dengan tepat, tetapi bagaimana dengan dosen yang hilang kabar? Hanya sekedar menitipkan materi lalu mahasiswanya dipaksa paham, belum lagi ditambah tugas-menugas yang selalu di jejali tanpa kecukupan bekal materi. Sangat prihatin sekali jika hal ini dikaitan dengan jumlah uang yang mahasiswa keluarkan setiap semesternya sebagai pembayaran. Adakah keseimbangan antara biaya kuliah dengan kepuasan belajar yang kami dapat selama ini?
    Lagi-lagi ini tentang bagaimana hidup sehat dengan kewarasan berpikir. Bagaimana mau hidup sehat kalau otak dipaksa berpikir banyak hal. Apakah justru Bapak/Ibu dosen menganggap banyak mahasiwa yang malas-malasan, atau tidak memberi respon balik terhadap upaya pengajaran yang Bapak/Ibu berikan sehingga merasa percuma untuk memberikan asupan mengajar yang terbaik? Tetapi bukankah tetap saja bagaiamanapun keadaannya jika sudah memilih menjadi seorang dosen maka harus menerima resiko yang ada dan tetap melakukan cara mengajar sesuai fungsinya apapun halangannya.
    Akhir pembahasan sebelum surat ini berakhir, Ada hal lain yang akan disorot ialah mengenai sistem pembelajaran daring. Semenjak munculnya aplikasi khusus yang ‘katanya’ mempermudah pengajaran dalam satu Platform yang berfungsi sebagai system belajar dan alat absensi. Saya sebagai penulis sangat apresiasi dengan upaya kampus yang ingin mempermudah mahasiswa dalam metode belajar namun praktiknya hanya sebatas digunakan untuk mengirim materi, kuis, dan absen. Bahkan dalam web tersebut tidak digunakan untuk diksusi materi tetapi lebih kearah Absensi dan pengiriman materi sehingga banyak dosen yang akhirnya kembali dengan media sebelumnya seperti WhatsApp grup atau google classroom. Wajar bila akhirnya saya berfikir web ini digunakan sebagai strategi kormesial kampus saja untuk mahasiswa segera melakukan pembayaran agar namanya bisa memasuki layar absen online.
    Ketika saya menulis surat terbuka ini kepada bapak/ibu dosen, tentunya akan banyak timbul riak-riak lain yang memiliki kegelisahan yang sama. Tidak berniat memancing di air keruh. Saya percaya bahwa seluruh pihak kampus mengingkan hal yang terbaik untuk semuanya, namun dengan jalan dan sistem yang salah apakah harus tetap dilanjutkan? Apakah tidak sebaiknya diperbaiki dulu baru dilanjutkan?
    Intinya semua mahasiswa perlu mengetahui standarisasi perkuliahan dan mereka pun punya hak untuk menerima titik kenyamanan dalam pembelajaran daring. Apabila standarisasi sudah jelas, saran dan keluhan mahasiswa sudah diterima, dosen-dosen pun sudah mengevaluasi diri akan kinerjanya, sudah tentu akan ada hal-hal baik yang menyertai proses perkuliahan kita semua.(Billa/LPM.Wisma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *