Peringati Hari Tani Nasional, KAMRAD Desak Hentikan Konflik Agraria di Banten

Serang, LPMWisma.com – Koalisi Masyarakat Untuk Demokrasi (KAMRAD), menggelar aksi di depan kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional pada Kamis(24/9).

Aksi tersebut diisi dengan berbagai orasi ilmiah, puisi & membagikan agitasi terhadap masyarakat. Kamrad juga menyoroti kondisi agraria di Banten. “Banyak sekali konflik agraria di banten, yang mengorbankan lahan tani milik masyarakat seperti yang terjadi, di Cikeusal dalam Proyek Strategis Nasional Tol Serang-Panimbang, Proyek Geothermal Padarincang dan yang terbaru penggusuran lahan di Bandara Soetta Kuncir yang belum mendapatkan kompensasi nya” ujar Stuppa selaku Juru Bicara Kamrad ditengah aksi siang ini.

Ia juga mengatakan bahwa pemerintah perlu lebih peduli terhadap kondisi agraria di Banten dan jalankan UUPA secara penuh demi kesejahteraan petani di Banten.

Dalam memperingati Hari Tani Nasional 24 September 2020, Kamrad melayangkan 10 tuntutan yaitu:

Kamrad adalah aliansi strategis yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat, seperti Perpus Jalanan, Pembebasan, LMND-DN, Serang Raya Literasi, AEMPEKA & Individu merdeka lainnya yang terjun dalam gerakan kerakyatan multisektoral. (RG/LPMWisma)

  1. Tolak dan Gagalkan Omnibuslaw;
  2. Tolak Pembangunan Industri yang Mengakibatkan Krisis Ekologis di Banten;
  3. Tolak Proyek Strategis Nasional yang Menghancurkan Lingkungan dan Sosial-Ekonomi Rakyat;
  4. Lawan Kriminalisasi Negara kepada Petani, Nelayan, dan Masyarakat Adat;
  5. Laksanakan Amanat UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
  6. Jalankan Reforma Agraria sesuai UU Pokok Agraria;
  7. Berikan Jaminan Sosial yang Layak bagi Kesejahteraan Petani di Tengah Pandemi Covid-19;
  8. Lawan Lintah Darat di Desa dan Monopoli Bulog terhadap Hasil Tani Rakyat;
  9. Segera Sahkan Rancangan Undang-Undang Masyarakat Hukum Adat;
  10. Solidaritas perjuangan untuk masyarakat Tani Cikeusal, Korban Penggusuran Banda Tangerang, Korban Limbah Binuang, Masyarakat Penolakan Geothermal Padarincang, dan konflik agraria lainnya di Indonesia.

Reporter : RG
Editor : Red