Terjal dan Cuaca Buruk, UKM Kamus Tetap Salurkan Bantuan

PANDEGLANG, LPMWISMA.com –  Delapan hari pasca bencana tsunami Selat Sunda (22/12/2018) menyisakan luka yang mendalam bagi seluruh warga sekitar pantai. Terselip cerita haru yang dialami UKM Kajian Mahasiswa Unsera (Kamus) ketika menyalurkan bantuan langsung kepada warga Desa Banyuasih, Pandeglang (28/12/2018). Terjalnya medan untuk mengakses lokasi pengungsian tidak mematahkan semangat mereka untuk membantu para korban tsunami Selat Sunda.

Bermula dari pemberangkatan pada hari Kamis sore (27/12/2018), berbagai kesulitan pun sempat dialami UKM Kamus karena lokasi pengungsian yang berada di pegunungan. Sesampainya di Desa Citeureup, mereka bertemu dengan relawan dari Komunitas Bee Relief yang merupakan komunitas penyedia fasilitas kesehatan dan ditemani oleh tiga dokter dari komunitas tersebut.

Kondisi cuaca yang pada saat itu hujan disertai angin kencang, UKM Kamus dan Bee Relief bahu- membahu menuju lokasi pengungsian. “Kebetulan mereka (Bee Relief) membuat posko di pegunungan,  tempat dimana banyak korban-korban yang mengungsi  dari Kp.  Kelapa Koneng, Banyuasih.  Salah satu kampung yang memang dampak kerusakannya cukup  besar. ” Tutur Elsa Nurfauzi, Kominfo UKM KAMUS melalui wawancara via Whatsapp.

Setelah sampai di lokasi pengungsian pada pukul 22.00 WIB, suasana sunyi dan senyap langsung menyambut mereka. Elsa menggambarkan suasana tersebut seperti desa mati. Tercatat 42 rumah habis tersapu ombak,  75 kepala keluarga yang terdiri dari 200 jiwa yang mengungsi.  “Setelah kami jalan selama kurang lebih satu kilometer, kami bertemu dengan beberapa keluarga yang memang mereka adalah korban dari bencana tsunami Selat Sunda. Kebanyakan dari mereka rumahnya memang habis tersapu ombak dan tidak ada sisa sedikitpun. Ketika tsunami terjadi, tidak ada yang mereka bawa selain baju yang menempel dibadan mereka. ” Paparnya.

Sejumlah warga yang berada di kampung tersebut, baru mendapat bantuan logistik dua kali dan harus turun ke Kantor Desa Banyuasih yang letaknya di dataran bawah untuk mengambilnya. Lokasi kantor desa yg berada di dekat bibir pantai membuat warga takut untuk menjangkaunya karena trauma yang dialami mereka, khususnya anak-anak.

Elsa yang juga warga lokal di daerah tersebut menuturkan kepiluannya ketika mendengar beberapa cerita dari warga sekitar setelah tsunami memporak-porandakan tempat tinggal mereka. “Semoga tidak akan ada lagi bencana seperti ini, dan harapannya semoga pemerintah segera memberikan bantuan untuk semua warga yang rumahnya habis tersapu ombak. Karena mereka kehilangan seluruh harta bendanya.”  Tutupnya. (LPM WISMA/Tia)

Editor : Dwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *