Perjalanan Menulis Seorang Amatir Kurnia Al Fandi dalam Hari Aksara Internasional

SERANG, LPMWISMA.com – Kilas balik hari Aksara merupakan hari upaya untuk pemberantasan buta aksara (tidak dapat membaca ataupun menulis) yang digagas oleh UNESCO melalui konferensi para menteri pendidikan tentang pemberantasan buta huruf di Teheran, Iran pada tanggal 8 sampai dengan 19 September tahun 1965 dan telah ditetapkan untuk diperingati pada tanggal 8 September dari hasil konferensi umum UNESCO 26 Oktober 1966 yang lalu. Hari peringatan tersebut serentak dilakukan di berbagai kota, provinsi, bahkan negara secara global termasuk kota Serang yang tahun ini memperingatinya dengan tema besar literasi.

Pramoedya Ananta Toer berkata “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Berawal dari keinginan untuk menjadi seorang penulis profesional yang bisa terus menghasilkan karya-karya, salah seorang mahasiswa Universitas Serang Raya (Unsera)  memantapkan hati untuk turut berpartisipasi pada ajang lomba menulis artikel tingkat kota yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang serta TBM (Taman Baca) selaku mitra,  dalam rangka memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) dengan tema “Literasi untuk Meningkatkan Kemampuan dan Keterampilan” yang diselenggarakan terhitung sejak tanggal 1-5 September 2018 di Museum Kota Serang.

Ialah Kurnia Al Fandi, mahasiswa FISIPKUM prodi Ilmu Komunikasi yang telah berhasil mendapatkan predikat juara 2. Uniknya, Kurnia bukan lah satu-satunya mahasiswa asal Unsera yang berhasil meraih juara pada lomba menulis artikel tersebut, juara 1 berhasil diraih oleh Irmawati dimana hal ini menunjukkan dominasi putera-puteri asal Unsera dalam ajang lomba menulis tingkat kota Serang. Keduanya pernah berada dalam satu tim yang sama pada perlombaan karya tulis ilmiah yang diadakan FISIPKUM Unsera dan berhasil mendapatkan juara 1 tingkat prodi.

Artikel dengan judul “Literasi yang Terpaksa Membuat Saya Menjadi Penulis Amatir yang Beruntung” lah yang berhasil membuat Kurnia dapat meraih juara, ia mengemukakan bahwa artikelnya tersebut membahas mengenai perjalanannya menjadi seorang penulis amatir namun beruntung dimana ia mengawali karya tulisannya hanya karena keterpaksaan kewajiban mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah di semester 4 dimana setiap mahasiswa sangat dianjurkan mengikuti LKTI 2018 oleh FISIPKUM, “Awal mulanya saya hanya bertekad lolos nominasi agar tidak UAS, dan alhamdulillah justru mendapat juara 1 tingkat prodi Ilmu Komunikasi..,” paparnya. Pada saat itu Kurnia mengangkat judul karya tulis “Social Controlling antara Mahasiswa dengan Masyarakat Sekitar Guna Mencipta Lingkungan yang Kondusif”, lalu dinyatakan lolos untuk babak selanjutnya yakni mempresentasikan hasil karya tulis di hadapan beberapa juri hingga akhirnya berhasil keluar sebagai juara.

Perjalanan menulis seorang amatir berlanjut hingga pada bulan Juli lalu dimana Kurnia diminta oleh adik kawannya menulis sebuah essay dalam lomba lawatan museum negeri Banten dan kembali berhasil lolos lalu mendapat hadiah untuk pergi selama 4 hari mengunjungi Lasem dan Dieng pada 27-30 Agustus lalu.

Sejak saat itu, Kurnia bertekad meneruskan untuk membuat karya-karya tulisan lain dan menuangkannya ke dalam artikel untuk perlombaan tingkat kota Serang yang baru saja kembali ia juarai. Pada perlombaan kali ini peserta tidak hanya sekedar mengumpulkan naskah lalu menunggu hasil pengumuman seperti perlombaan menulis lainnya namun peserta diharuskan menulis artikel pada hari H di kertas polio sebanyak dua lembar dengan jeda waktu 90 menit kemudian dikumpulkan untuk dinilai, “Diharapkan peserta dapat memenuhi kriteria sesuai dengan tema besar perlombaan, kemudian sistem penulisan seperti tata bahasa dan teramu dengan baik,” ungkap Junita Bahari selaku Ketua Forum TBM saat ditemui pada acara penyerahan piala, sertifikat, serta souvenir kepada pemenang. Kurnia mengaku bahwa persiapannya mengikuti lomba menulis artikel hanya sehari sebelum perlombaan dengan mempelajari artikel terkait lalu membuat konsep berupa beberapa point penting yang akan dibuat dalam artikel.

Jika dilihat dari hal sederhana tersebut, hal ini dapat seyoganya membuktikan bahwa putera dan puteri Unsera patut diperhitungkan sumber daya manusianya dalam kancah unjuk gigi di berbagai perlombaan akademik maupun non akademik khususnya di kota Serang ini.

Terakhir, Kurnia berpesan kepada mahasiswa Unsera untuk menjadi pemuda/i yang berkelas dengan karya. Kini saatnya “para amatir” Unsera keluar untuk mengeluarkan potensi dalam diri mereka yang sesungguhnya, tak perlu dalam skala yang besar namun cukup dengan satu langkah kecil.

Kisah seorang amatir bernama Kurnia Al Fandi memang lah tak seheboh kisah penulis kenamaan lainnya, hanya dengan hal sederhana dan cukup dengan hal sederhana itu yakni “berani memulai” dapat mengantarkannya pada hal-hal yang akhirnya membangkitkan bakat terpendam berharga dalam dirinya, yaitu menulis.

September ialah bulan dimana terdapat hari peringatan aksara internasional. Selamat hari aksara internasional, selamat membaca, selamat menulis! (LPM Wisma/ Rizky N, Al)

Editor: Wid

Please follow and like us:
error