Kontroversi Dibalik Workshop & Photography On The Spot Ilmu Komunikasi

SERANG, LPMWISMA.com – “Sekali lagi saya jelaskan, tidak ada unsur komersil disini.” Itulah kalimat yang diucapkan oleh Winata Faturohman selaku dosen pengampu mata kuliah Fotografi Ilmu Komunikasi semester 4 Universitas Serang Raya (UNSERA) disela-sela kegiatan Workshop & Photo On The Spot yang baru saja diselenggarakan di Auditorium lantai 6 gedung utama UNSERA, Sabtu (12/05). Kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa semester 4 Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi ini ditujukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Fotografi semester 4.

Namun dalam pra pelaksanaanya, kegiatan ini sempat menuai beberapa pro dan kontra dari para mahasiswanya terkait, pasalnya kegiatan tersebut mengharuskan seluruh mahasiswanya untuk membayar iuran sebesar Rp.100.000 perorangnya. Sehingga beberapa mahasiswa menganggap ini terlalu memberatkan para mahasiswanya, seperti yang diutarakan oleh Tb. Nisaz mahasiswa semester 4 Ilmu Komunikasi, “Saya rasa kenapa kita merasa keberatan di dana, karena disini teman-teman berpikir bahwa kita kuliah sudah bayar, masa untuk UAS pun kita diharuskan untuk membayar lagi,” pungkasnya.

Ditemui disela-sela kegiatan tersebut Tb. Nisaz pun menyampaikan bahwa yang menjadi landasan rasa keberatan mahasiswa terkait dana yang ditetapkan ini dikarenakan tidak semua mahasiswa semester 4 Ilmu Komunikasi berasal dari latar belakang ekonomi yang tinggi, sehingga hal ini bisa menjadi beban bagi para mahasiswa sendiri. Selain itu mewakili teman-teman mahasiswa yang merasa keberatan dengan dana iuran yang sudah ditetapkan, Tb. Nisaz pun menyesalkan pihak panitia yang menganggap sudah menolak mentah-mentah solusi konsep yang ditawarkan oleh pihaknya terkait konsep acara kegiatan ini, “Konsepan dari kita tidak sama sekali goals ya, artinya ditolak mentah-mentah karena bagi mereka konsep yang kita ajukan dianggap tidak rasional,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, pihak panitia memberikan klarifikasi terkait pro dan kontra yang terjadi dalam proses pelaksanaan kegiatan tersebut. Ari Rizky Juliawan selaku ketua pelaksana menyampaikan, “Kritis adalah jiwanya mahasiswa, jadi wajar jika hal itu terjadi, dan memang hal yang paling banyak dikeluhkan adalah perihal pendanaan yang dianggap terlalu besar bagi teman-teman yang tidak mampu, tapi kami dari pihak panitia tidak membatasi siapapun jika dana terpenuhi kenapa tidak, karna ini untuk kebaikan kita bersama, dan alhamdulillah teman-teman semester 4 sudah mengerti dan memahami setelah kita jelaskan terkait dana dialokasikan kemana saja,” jelasnya. Ari pun menegaskan bahwa perihal konsep acara pada kegiatan ini murni datang langsung dari dosen pengampu mata kuliahnya dan pihak panitia hanya diberi amanat untuk menentukan tanggal kegiatan dan mempersiapkan segala kebutuhan apa saja yang dibutuhkan pada pelaksanaannya.

Sebagai dosen pengampu mata kuliah Fotografi sekaligus yang memiliki tanggung jawab  paling besar dalam kegiatan tersebut, Winata Faturohman pun turut angkat bicara terakit pro dan kontra yang terjadi di kalangan mahasiswanya tersebut, “Sebetulnya saya juga tidak tau kenapa ada pro dan kontra seperti itu apakah memang ada oknum atau kah terjadi suatu ketidakpahaman disitu, dan saya rasa pihak dari panitia sudah dapat menyelesaikan masalah tersebut sehingga diharapkan adanya saling pengertian antara pihak yang kontra dengan yang pro, sehingga saya jelaskan sekali lagi tidak ada unsur komersil disini,” pungkasnya.

“Untuk konsep UAS ini kemarin saya sudah bertemu dengan teman-teman yang lain dan pihak yang kontra tersebut pun ada dan mengenai konsep mereka yang tidak goals saya sudah memiliki rules untuk UAS ini yang harus ditaati oleh mahasiswa juga, disini saya memiliki hak dan kewajiban sebagai dosen dan harus dipertanggungjawabkan ke pihak kampus nantinya, dan saya punya hak terhadap apa yang saya inginkan dari mahasiswa untuk UAS kali ini,” tegasnya.

Beliau pun menjelaskan bahwa kegiatan ini bukannya hanya sekedar bentuk tugas akhir mata kuliah Fotografi saja, akan tetapi sebagai dosen pengampu beliau ingin mewadahi para mahasiswanya untuk belajar secara langsung dunia fotografi melalui kegiatan Workshop & Photo On The Spot ini. Pihak panitia dan dosen pengampu mata kuliah tersebutpun sudah memaparkan terkait transparansi dana yang akan dialokasikan kemana saja, seperti yang diutarakan oleh Ari, “Dana Rp.100.000 dari mahasiswa ini kita asumsikan ada 100 mahasiswa semester 4, jadi total semua dana ada Rp.10.000.000 dan Rp.5.000.000 digunakan untuk pembiayaan dua orang pemateri yang dikelola langsung oleh pak Sigit dan pak Winata, dan sisanya kita gunakan untuk keperluan dan hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan, seperti dekorasi, model, properti, konsumsi, sertifikat, biaya penyewaan kamera dan keperluan lainnya,” jelasnya.

Adapun rangkaian kegiatan acara tersebut terdiri dari Workshop yang dimulai pada pukul 09.30 WIB – 15.00 WIB dengan pembicara Aditya Subekti dan Roni Budi Samtoso selaku orang yang ahli di bidang fotografi, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi Photo On The Spot, yang mana seluruh mahasiswa wajib mengambil gambar 4 model yang sudah disediakan oleh pihak panitia. Selain itu pihak panitia pun sudah menyediakan 10 unit kamera yang diperuntukan bagi para mahasiswa yang tidak memiliki kamera, sehingga seluruh mahasiswa dapat mengikuti sesi Photo On The Spot ini, dan sebagai bentuk apresiasi dari pihak panitia penyelenggara dan dosen pengampu selaku pihak yang mendukung kegiatan tersebut, kepada dua mahasiswa yang mendapatkan nilai tertinggi dari hasil foto terbaik nantinya akan diikut sertakan pada salah satu acara yang dibuat oleh stasiun televisi Trans 7 pada bulan Agustus mendatang untuk mengikuti kontes foto dengan model Sheila On 7 sebagai salah satu grup band ternama tanah air. (LPM Wisma/Elsi Fauzi & Al)

Editor: Wid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *